Showing posts with label Catatanku. Show all posts
Showing posts with label Catatanku. Show all posts

Wednesday, May 30, 2012

My Test Results

these all what test says about me:


Result point: 45
41 TO 50 POINTS 
Others see you as fresh, lively, charming, amusing, practical and always interesting; someone who's constantly in the center of attention, but sufficiently well-balanced not to let it go to their head. They also see you as kind, considerate, and understanding; someone who'll? always cheer them up and help them out.

Tes Kepribadian iPersonic @http://www.ipersonic.net/id/test.html

Result says: 
Your iPersonic Type: The Social Realist

Social Realists like you are popular persons full of energy. You are reliable, well organized and helpful. Traditional values are important to you. Founding a family also plays a central role in your life. Social Realists have a marked social streak. You are always ready to listen to the worries and problems of others and spare no effort when you are asked for help. With empathy and understanding, you can sense what other people need. You are always willing to highly regard the strong points of the other person and to excuse that person’s weaknesses. You are the most sociable of all personality types. Social contacts are very important to you. Social Realists find it very difficult to cope with conflicts and criticism - harmony is your elixir of life. Acknowledgement and esteem are very important to you. Differentiation on the other hand is not necessarily one of your strong points. At work and in partnerships, you are loyal, committed and always there when needed. You find it easy to make friends due to your open, warm manner and you have a large circle of friends. Social Realists are more conservative types. You have a set system of values and rules. You prefer clear, structured surroundings and work processes; you find too much change und unrest unpleasant. Your strong points are carefulness and reliability and not so much flexibility and spontaneity. Social Realists are open-minded towards anything new only to a limited extent. But, should one be looking for someone to fulfil a task reliably and exactly, you are the right person. The Social Realist is the most social among all personality types. For you, it is essential to choose a profession where you can deal with as many people as possible. You recharge your batteries with the help of people contact and the personal exchanges needed for your very special talents to unfold. You are the prototype of the caring person in the positive sense, because you love to act on behalf of others and care for them. If you have the impression that there is a way to contribute by improving the quality of their life, it satisfies you more than anything. For your type, the feeling to be needed, loved, and appreciated is more than vitally necessary. Therefore, working in seclusion is not for you. It is just too much counter to your extroverted nature, and your need for interpersonal interaction.You have the best ideas during dialogues with others, as they stimulate your creativity. Instead of developing abstract aid projects with the help of a drawing board, you prefer to engage yourself on the frontlines with person to person contact. For you, it is important to see the results of your work so you can go home feeling that you (again) made the world a better place - at least a bit.  You are a born team player. You are open and communicative, easily integrating yourself into group hierarchies. For your personality type, harmony is the keyword in your personal, as well as in your professional life. Since conflicts and power struggles seriously stress you making it difficult for you to attend to your tasks, you should put your emphasis on working in a stress free, respectful, and affectionate environment. Working environments continuously affected by tough infighting, and where competitive conflicts are intense represent too great a strain.

My Cheating Face


Unbelievable,
Hard to believe,
Non sense,
Well, whatever you say….. It’s me……

Kenapa harus aku katakan kalau wajahku menipu???
Now Look at to my Face!
Clearly.........................................

Deeply.........................................

16 years old, start being a collage student


20 years old, I finally finished my study

22 years old, 3 weeks after marriage

 Honestly, say it! What does it look like?????
Pretty Girl in her twenties and married women
Or
Little Girl in her teen-aged and single???
Which one most appropriate?

Oou,,,, tunggu dulu, bukan berarti I am a Narsis Girl yang mau show up ke kalian2 about my pretty face (meskipun sedikit pretty lah kurasa;....... kumat dah narsisnya). Hehehe
Clearly, I just want to share you about my life according to my face….. 

Jadi begini ceritanya,,,,,
Muka yang seperti  ini kadang-kadang enak, kadang-kadang juga gak enak,,, Lho kok!!!! Tapi bukannya berarti aku gak bersyukur akan karunia yang udah Tuhan kasih buat aku ya,,, (thankssssssss banget Alhamdulillah buat karunia Allah SWT yang satu ini). Hanya saja, ya itu tadi, jadi banyak kejadian-kejadian yang unpredictable dan sedikit sudah dapat diprediksi lah akan apa yang terjadi…hhihihi (bingung yak??? Samma, aku juga bingung)

Most people said, and almost everyone told me that I have Baby face. Duuuuh, lagi-lagi gak bermaksud narsis ya. SWEAR dah! Cuma mau berbagi cerita doank.
Nah, jadi karena muka ku yang mirip little girl ini, selalu menjadi sasaran empuk untuk menciptakan suatu kesalahpahaman antara aku dan orang lain, especially to my acquaintance, orang pertama kali yang aku temui.

Kejadian kesalahpahaman ini sudah biasa menghiasi hari-hariku, perjalanan sekolahku, hidupku, maupun karirku.  Jadi sebetulnya aku sudah biasa to face those all things. Nah yang akan aku ceritakan ke kalian-kalian semua adalah yang the most memorable aja ya;)

Nie kejadian beberapa minggu setelah aku menikah. Waktu itu aku dan suamiku go for honeymoon ke Pulau Dewata Bali. Beberapa saat setelah akan lepas landas dari Soetta, kebetulan sekali aku dan suamiku menempati tempat duduk tepat di sebelah pintu darurat. And then, tiba-tiba seorang flight attendant mendatangi kami and said to my husband: “Maaf mas, adiknya umur berapa ya (sambil menujuk ke arah muka ku yang lumayan agak polos ini)??? Kalo masih di bawah umur 14 tahun kami sarankan untuk pindah tempat duduk, karena disini diprioritaskan untuk dewasa berumur 20 tahun keatas.”
Gubraaaaaaaaaakkkkkk…. Kalo ada mix, aku udah nyanyi lagunya Olga Syaputra tuh, yang ‘Hancur…Hancur Hatiku’…..
Dengan tersenyum simpul suamiku menjawab: “Oh, maaf mb, ini istri saya”….
“Oh, maaf maaf mas, saya kira adiknya” pramugari pun berlalu sambil menahan malu….

Oke gpp,,, Life must go On.

Pernah juga suatu hari aku mengantar sepupuku  yang baru menamatkan SD dan melanjutkan sekolahnya di salah satu SMP swasta yang ada di Bogor. Tibalah hari pendaftaran, I come there with my aunt, uncle dan sepupuku itu. Little bit about my cousin, sepupuku itu anaknya lumayan supel and cepet deket ama siapa aja, udah deh, sampe disana dia langsung cari teman and gabung ma temen-temen sebayanya. Gak mau kalah ama anaknya, tante ku juga menghampiri salah satu orang tua murid baru dan berkenalan. Ogah donk kalo ditinggal sendirian akhirnya aku ikut gabung deh ama tante ku itu yang lagi ngobrol ama kenalan barunya.
Selayaknya orang yang baru kenalan, akhirnya aku bersalaman sama orang tua murid itu, dan kata-kata pertama yang keluar dari bibir manisnya adalah “Anaknya yang mau masuk sekolah yang ini ya bu (sambil melirik cantik kearah ku)?”
Whaaaaaattt!!!! Bagai petir disiang bolong menyambar jemuran mpe bolong-bolong,,, Helloooooo maaaam,,,,, aku ini mahasiswa lho, masak dibilang mau masuk SMP…. Plissss Dehhhhh,,,,,

Once more time,,,, Lagu ‘Hancur Hatiku’ kembali terngiang-ngiang di telingaku.

Oke, kita flash back lagi ke seminggu setelah my wedding. Setelah menggelar pesta di tanah kelahiranku, seminggu kemudian kami mengadakan syukuran lagi di tanah kelahiran suamiku di Serang. Tamu-tamu pun mulai berdatangan ke rumah mertua ku. Karena hanya syukuran biasa saja tidak seperti pesta, jadi kostum yang ku kenakan saat itu pun hanya long dress biasa saja.
Aku pun duduk di kursi berdampingan dengan pacar adik ipar ku yang memang dia seumuran dengan ku. Umur kami hanya berjarak satu tahun. Kami duduk tepat di depan pintu belakang tempat tamu perempuan biasanya berdatangan.  Ketika tamu masuk ke dalam rumah kami berdua pun berdiri, dan menyambut tamu sambil bersalaman satu sama lain. Herannya,,,, tamu-tamu tersebut mengucapkan selamat kepada pacar adik ipar ku dan bukan kepadaku. Khawatir berkelanjutan pacar adik ipar ku pun buka suara:
“Punten ibu, yang menikah yang ini (sambil menunjuk kearah ku yang sedang terbengong2 seperti kepompong abis di gendong)”, “Ooooooooh,,,, yang ini,,,,, saya kira embak mantennya,,,,,” Balas sang tamu sambil menahan (entahlah apa yang ditahan oleh mereka), dan aku hanya bisa menahan geraaaaaammm sangad sangad sangaaaaaad (ala upin ipin),,,,,,
Uuuuughhhhhh…….. lagi-lagi tak ada yang percaya kepada ku,,, hiks hiks,,,,

Okelah, let it be….

Sekarang urusan belanja. Hmmmmhhmmm,,, ibu-ibu pasti suka belanja. Gak jauh bedalah sama aku. Cuma sekarang-sekarang aku udah males belanja…  terutama di tempat yang harganya belum pasti alias masih bisa ditawar. You know why????
Karena, seringkali aku gak dipercaya kalo lagi nawar. I’m not really sure apa penyebabnya, entahlah. Apa mungkin aku kelihatan seperti orang yang gak punya uang, atau aku belum cukup umur untuk berbelanja, dan aku seperti anak kecil yang sebetulnya harus didampingi oleh orang tua ketika akan berbelanja???? Hanya Allah dan penjual lah yang tahu.
Pernah suatu ketika aku mau beli Lingerie (baju tidur untuk wanita dewasa). Yaah, selayaknya pembeli yang lain, tanya ini-tanya itu, tawar sini-tawar situ. Dan tahukah anda,,,, penjualnya sepertinya ogah-ogahan untuk menjawab semua pertanyaan aku dan melayaniku.  Udah gitu pake nanya lagi “Buat siapa dek lingerie nya?” ……….. aku jawab “buat kado mas”, “OOOhhhh” dia pun berpaling dari ku, (mungkin dalam pikiran dia “siapa elo?? Paling Cuma mahasiswa yang cari kado dengan budget seminim mungkin) dan
 dia lebih memilih untuk melayani pembeli lain yang kebetulan ada seorang yang physically memang lebih dewasa dari ku.
Woow, what’s wrong with me????? Dan ini bukan hanya sekali aku mengalami tragedi pen-cuek-an seperti ini, but……. more times, termasuk ketika beli sayur.
Semenjak itu, aku lebih memilih untuk belanja di mall / supermarket yang tidak harus melakukan adegan tawar-menawar dengan empu nya toko dan menghindari adegan yang tak diinginkan yang dapat membuat ku sedikit sakit hati…. Hssssss….

Sampe-sampe karena kejadian ini, aku suka minder. Aku lebih memilih suamiku untuk berhadapan dengan penjual jika kebetulan aku belanja di pasar dengannya. Hiks hiks,,,,,,,

Memang terkadang ada enaknya dan ada enggaknya. Yaaah, inilah asam manisnya kehidupan ku. Meskipun demikian, I really enjoy it dan aku tetap bersyukur dengan segala nikmat Allah ini. Meskipun pada awalnya aku sempet khawatir, khawatir gak dapet jodoh karena wajahku tak terlihat seperti orang dewasa,,,,hihihihi,,,,
Tapi ternyata Allah Maha Penyayang, Allah menjawab kekhawatiran ku dengan nikmat terbesar dipertemukan dengan jodohku.

Itu ceritaku……

Apa ceritamu…..? ;-)

Sunday, February 26, 2012

RAHASIA BAHAGIA



Weekend lalu, keluarga kecil kami didatangi oleh sepupu dari suamiku dari Tanggerang. Kebetulan istrinya sedang pulang ke rumah orangtuanya yang ada di Garut. Setelah melepas kepergian istri bersama bidadari cantiknya di Gambir, sepupu suamiku berniat untuk mengunjungi gubuk kecil kami di daerah Bogor. Sebagaimana keadaan sebelum-sebelumnya, dengan kondisi apa adanya, kami selalu berusaha memberikan dan mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut setiap tamu yang akan berkunjung ke rumah kami.  
Sesampainya ia dirumah kami, seperti biasa, apapun yang ada dirumah kami suguhkan meskipun tidak semewah dihotel berbintang. Dengan mengemban prinsip “Ikromu duyuf (memuliakan tamu)” selama kami mampu, apapun kami berikan. Sikap ku dan suamiku tidak ada yang berbeda, seperti biasa dan dihadapan siapa saja, tertawa, canda, yah,,, tidak ada yang ditutup-tutupi. Karena itulah kami, kami ingin menjadi diri kami sendiri “it’s me”, tidak ada istilah jaga image ataupun semacamnya, kami pun tidak berusaha dan tidak berkeinginan untuk menjadi orang lain, karena inilah KAMI (pasangan yang hampir satu tahun menikah dengan hidup apa adanya).
Hingga keesokan harinya sepupu suamiku pun berpamitan pulang. Esoknya disaat suami ku masuk kerja, diselingi aktifitas rutinnya di kantor, suamiku pun chat melalui salah satu jejaring sosial yang ia miliki, dan saat itu suami ku ngobrol dengan sepupunya yang mengunjungi rumah kami. Dipertengahan percakapan antar kedua lelaki ciptaan tuhan itulah sepupunya menyampaikan kesan-kesannya tentang keluarga kecil kami.
“Aku lihat, koq keluarga kalian selalu bahagia sih, sepertinya hidup kalian tidak ada beban gitu, rahasianya apa?”
“Tidak ada rahasianya mas, yah, gitu2 aj, yang penting kita selalu bersyukur, caranya ya nggak ninggalin shalat, berdo’a-berserah diri sama Yang Punya Kehidupan, Sedekah, Shalat Dluha, dan kita juga harus yakin seyakin-yakinnya karna Allah yang ngasih rizki (makhluk yang paling kecil aja udah dijamin rizkinya ma Allah, apalagi makhluk segede gaban kayak kita) harus yakin tanpa ada sedikit keraguan sedikitpun.” Sejenak suamiku menghela nafas sambil melanjutkan ketikannya di layar komputer.
“Tidak cinta dunia dan cinta harta, karena semua itu hanya sementara. Sadari bahwa Allah hanya mengamanahkan itu kepada kita untuk digunakan, dirawat dan dijaga, tidak untuk dimiliki. Dengan itu, kita tidak akan merasa kehilangan ketika apa yang kita miliki itu sudah tidak ada. Lalu silaturrahmi, dan yang terakhir adalah ikhtiar.”

Dan memang begitulah, ia, imamku, selalu mengingatkan ku tentang ‘RAHASIA BAHAGIA’ itu. Setiap hari tidak pernah ia bosan mengingatkan nasihat itu, dan aku, harus untuk tidak bosan mendengar ‘OCEHAN’ magic itu.
Ia selalu mengingatkan ku untuk shalat Isya’ dulu sebelum aku ketiduran karena lelahnya seharian bekerja, Ia yang selalu mengajakku untuk selalu berdo’a selepas shalat, Ia yang mengajarkanku untuk membeli barang dagangan penjual yang terlihat sudah tua renta-meskipun sebetulnya kita tidak membutuhkan barang tersebut, Ia juga yang tidak pernah khawatir dengan selalu meyakinkanku yang sangat khawatir tentang manajemen keuangan bulanan “tenang dinda, insya Allah nanti juga ada rizkinya, yakin deh”, Ia juga yang mengingatkan kan ku untuk tidak menganggap harta yang kita miliki itu milik kita-tapi milik Allah-kita hanya dititipkan untuk menjaganya, Ia yang selalu mengajakku silaturrahmi di akhir pekan kami-baik kerumah saudara maupun mengunjungi teman-teman kami, dan Ia yang selalu menuntunku untuk selalu ikhtiar dan tetap berusaha melalui setiap jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah SWT (dengan memanfaatkan setiap chance/kesempatan sebaik-baiknya). Oleh karena itu aku selalu bangga menyebut ia, SUAMIKU.  I’m so Proud of You.

Terima kasih Tuhan.

Jangan nunggu BAHAGIA dulu baru bersyukur, tapi bersyukurlah dulu maka kita akan merasa tambah bahagia.